Showing posts with label short story. Show all posts
Showing posts with label short story. Show all posts

Di Hari ke-7

08 September 2025

 

Photo by camilo jimenez on Unsplash

Di hari ke-7, Muryati membawa dua ember tahi kambing. Dini hari tadi ia mengendap-endap di alun-alun belakang masjid besar yang berubah menjadi tempat penjualan hewan kurban. Menggunakan sekop dan pengki, Muryati menyerok timbunan tahi segar, menahan rasa mual demi melangsungkan misinya. Sebelumnya, Muryati sudah pernah membawa tahi kuda dan ampas comberan. Namun, sejak Parman, tetangganya yang seorang supir dokar keliling, pindah kontrakan, Muryati tidak tahu dimana lagi mencari kotoran kuda. Ketika memasuki musim lebaran haji dan hewan ternak sedang mudah ditemui, maka, Muryati pun beralih ke tahi sapi dan kambing. Sama kotornya, sama najisnya.

Melalui celah di antara tembok dan pagar besi yang bengkok, Muryati masuk diam-diam dari sisi kanan, sebagaimana yang ia lakukan beberapa hari kemarin. Celingak-celinguk matanya memindai sekeliling. Mengencangkan kupluk dan kaos bekas yang ia pakai untuk menutupi separuh wajahnya. Begitu merasa aman, ia naik ke anak tangga pertama teras pendopo. Muryati menyenderkan tubuhnya pada satu pilar paling ujung. Mengistirahatkan tangannya yang mulai keram karena membawa ember-ember tadi. Pilar-pilar besar tak berguna, batin Muryati, memperindah hanya bangunan luar saja, tapi dalamnya busuk.  

Muryati menuang ember pertama berisi tahi, dengan sekop ia ratakan sampai sepanjang dua lantai granit seukuran 80 sentimeter. Kemudian, ember kedua juga diratakan ke bawah sama panjangnya. Jika tidak tahan pada aromanya, ia tidak segan muntah di atasnya sekalian. Hari ini, Muryati tidak begitu waspada seperti sebelumnya. Ia tidak sadar sepasang tangan sudah siap menyergap dari belakang.

“NAH YA, KETAHUAN LO YA…” Didin, kepala petugas kebersihan, sengaja datang lebih pagi untuk menangkap basah oknum yang mengotori pendopo depan kantor walikota. Didin yang bertubuh tambun terlalu kuat untuk dilawan. Muryati pun pasrah digelandang ke belakang pendopo.

“MUR?! SERIUS?!” Mata Didin membelalak tidak bisa menyembunyikan rasa kaget begitu membuka penutup wajah Muryati.

“Kenapa, Mur?! Kenapa?!”

Muryati tertunduk lesu. Ia lalu jongkok dan membenamkan kepalanya di antara lutut, tangisnya meledak.

**

Didin adalah sahabat dekat Mardi, almarhum suami Muryati. Mereka bertemu waktu masih jadi buruh di pabrik tekstil. Sejak Mardi wafat, bukan sekali dua kali Didin membantu Muryati dan anaknya. Keadaan menjadi lebih berat untuk Muryati sejak anak semata wayangnya, Ranggie, meninggal dunia tiga bulan lalu.

Tragedi yang menimpa Ranggie sempat menjadi headline di berbagai kanal berita. Pelajar berusia 16 tahun itu tewas setelah jatuh di lubang menganga di trotoar pada jalan utama. Lubang berdiameter 1.5 meter tersebut adalah salah satu proyek galian pemerintah daerah untuk membenahi saluran air. Tidak adanya penerangan layak membuat Muryati murka atas kelalaian petugas. Utusan walikota hanya mengantarkan karangan bunga beserta amplop duka. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada pernyataan menyesal oleh pemerintah setempat. Setelahnya, Muryati dibayangi kebencian pada segelintir orang di bangunan berpilar mewah itu.

Dua bulan setelah kematian Ranggie, Muryati mendatangi kantor walikota meminta pertanggungjawaban, yaitu menghentikan pekerjaan jalan seperti bongkar pasang trotoar di jalan utama. Putranya bukan korban pertama. Muryati berkeliling mewawancarai masyarakat sekitar untuk mengumpulkan korban dari proyek-proyek tidak jelas yang meninggalkan bekas-bekas galian yang menyengsarakan warga. Puluhan kendaraan roda dua yang tergelincuh di jalan berlubang, apalagi jika hujan dan lubang di jalan menjadi genangan. Sepanjang tahun, terutama mendekati kuartal akhir, akan ada banyak perbaikan di jalan-jalan utama. Saluran air, kabel listrik, kabel optik, peremajaan gorong-gorong dan lainnya.   Sebagai tukang ojek dan pengantar barang yang berkutat di jalanan, tentu saja Muryati geram.

Protesnya tidak diindahkan saat itu. Muryati digiring oleh petugas dan diberi pengarahan untuk mengisi kritik dan saran pada selembar kertas yang semua orang juga tahu itu hanya prosedur retorik. Mana pernah ada pemangku kuasa yang benar-benar membaca kertas-kertas berupa keluhan warga, lalu mengamininya. Muryati yang masih berselimutkan duka, kemudian naik pitam dan melampiaskan amarah pada petugas yang menyuruhnya pulang.

“KAYA TAI LO SEMUA! LO JUGA! TAI LO! TAIII…” teriak Muryati sambil menunjuk-nunjuk muka dua petugas keamanan. Maka, begitulah yang Muryati lakukan selanjutnya, membawakan tahi kepada mereka.

**

Akhir pekan panjang karena libur hari raya, kantor walikota pun sepi karena tak ada aktivitas. Didin menutup sisi kanan pendopo dengan potongan asbes dan triplek mengelilingi area yang tertimbun tahi. Lalu, ia berikan palang berupa kayu dan papan penanda, sehingga yang melihat akan menyangka di titik tersebut sedang diperbaiki. Didin memberikan instruksi pada anak buahnya kalau pendopo depan hanya boleh dibersihkan olehnya.

Satu, dua, tiga hari berlalu. Pada hari keempat tahi di lantai pendopo mulai mengering. Meninggalkan kerak dan aroma yang melekat. Semua orang mengeluhkan bau. Ada yang sampai muntah-muntah karena tak tahan. Bau yang menguar terbawa sampai ke ruangan walikota di lantai dua, yang kemudian menyuruh seorang pegawai senior untuk membereskannya.

Dua orang petugas mencari atasan mereka, selaku penanggungjawab kebersihan gedung. Mereka berpencar dari gerbang hingga ke gudang di bangunan paling belakang, namun sayangnya, keberadaan Didin tidak diketahui hingga saat ini.

Read More

Burung Gereja yang Tak Lagi Hinggap

04 September 2025

Photo by Matthew Harris on Unsplash

Mbok Nuning kehabisan kata-kata begitu pulang mendapati anak remajanya, Dimas, masih di posisi yang sama seperti saat dia meninggalkan rumah tadi. Berselonjor di teras, matanya terpusat pada gim daring di ponsel. Beberapa jam sekali pindah ke dalam untuk mengambil pengecas, lalu lanjut main lagi. Tidak jarang Dimas mengumpat sembari mengisap rokoknya. Entah mulai kapan anak itu merokok, mungkin tidak lama setelah Karyo, suami Mbok Nuning yang juga bapaknya Dimas, mangkat lima tahun lalu.  

 Walau tiap hari juga begini, jika masih ada tenaga sisa, Mbok Nuning akan menghampiri Dimas, membilangi kalau baiknya kamu makan dulu, mandi, ibadah, atau lakukan apapun yang lebih berguna dulu. Kadang Dimas hanya melenguh, namun seringnya membentak, mengatainya cerewet, bawel, dan ngga usah ngurusi. Hari itu, Mbok Nuning memilih langsung ke kamarnya. Terlalu lelah kalau harus mendebat Dimas. Sore tadi Mbok Nuning diberi kerja tambahan oleh Bu Dadi, membersihkan gudang yang lama tak tersentuh. Dan itu dikerjakannya setelah menyetrika tiga keranjang baju di rumah Bu Martoyo. 

Selesai membersihkan tubuhnya, Mbok Nuning mematut diri di cermin. Menggepit segaris kulit yang menebal di bawah pusarnya. Bekas luka yang dia bawa seumur hidup. Tujuh belas tahun lalu, Karyo bilang Mbok Nuning membawa keajaiban. Di usia yang hampir setengah abad, Mbok Nuning hamil lagi. Dipikirnya sudah mati haid, ternyata kehamilan yang pernah dinanti bertahun-tahun lalu terjadi. Mereka yang menikah di usia belia sebenarnya sudah memiliki dua anak laki-laki. 

***

Sumarto, lahir setahun setelah Nuning dan Karyo menikah. Mandri, lahir dua tahun kemudian. Saat Sumarto dan Mandri remaja, Karyo mengutarakan keinginan untuk punya anak lagi, tak masalah laki-laki atau perempuan. Nuning pun tak keberatan, karena ia juga kepingin menimang bayi lagi. Bertahun-tahun mencoba, namun tidak berhasil. Mereka pun mengubur keinginan itu, saat Sumarto membawa seorang gadis ke rumah yang diperkenalkannya sebagai calon istri. 

Baru menggenapi usia dua puluh, Sumarto sudah jadi suami orang. Sementara Mandri, tidak ingin cepat menikah. Buat Mandri pernikahan hanya akan menambah sengsara dan tidak mengeluarkannya dari lingkaran kesusahan. Dahulu, Karyo hanya sanggup menyekolahkan Sumarto dan Mandri sampai tingkat menengah pertama. Tentu saja karena ketiadaan biaya. Karyo lalu mengajak anak-anaknya ikut bekerja sebagai kuli bangunan bersama seorang kontraktor bernama Pak Said. 

Suatu waktu, Sumarto menyetujui ajakan seorang teman menjadi transmigran di pulau seberang. Dengan iming-iming biaya hidup murah dan gaji besar, Sumarto dan Ayu, istrinya, menjadi pekerja di perkebunan sawit. Dua tahun pertama, Sumarto selalu memberi kabar dan mengirimkan uang kepada orang tuanya. Kadang disertai oleh-oleh khas kota setempat. Tahun-tahun berikutnya Sumarto mulai sukar dihubungi. Bagai tersambar petir di siang bolong, Karyo dan Nuning menerima kabar bahwa Sumarto dan Ayu ditemukan tewas di tempat kerja mereka. Pihak berwenang menyatakan kematian pasutri itu adalah murni kecelakaan kerja. Nuning dan Karyo tentu sangsi, tapi tak bisa apa-apa. Mereka bahkan tak bisa membayar ongkos pemulangan kedua jenazah, apalagi harus berurusan soal penyelidikan yang tidak pasti. Ikhlas pun menjadi satu-satunya pilihan. 

Kedukaan yang ternyata tidak habis dalam waktu sebentar, membuat Karyo dan Nuning harus mendekap sungkawa ini selama-lamanya. Kemudian, senyum-senyum mulai merekah saat kehamilan Nuning. Karyo yang tidak lagi bekerja sebagai kuli bangunan karena usia, kini bersemangat lagi. Tidak ingin mengandalkan uang kiriman dari Mandri, Karyo pun menjajal berbagai pekerjaan, mulai dari pengangkut sampah, pemungut puing dan besi bekas, sampai bersih-bersih di warung tegal. 

Walau sungkan, Mandri yang kini menjadi asisten Pak Said, kadang menawarkan pekerjaan kepada ayahnya. Mandri adalah pekerja yang ulet. Sejak diajak sang ayah bekerja bersama Pak Said dulu, Mandri lalu mempelajari keahlian-keahlian baru. Dari menjadi tukang gali, Mandri belajar mengenai struktur bangunan, jenis material, pemasangan lantai granit, parket, hingga pengecatan dalam dan luar ruang. Tidak heran Pak Said menjadikannya mandor, kemudian diangkat sebagai asisten. Pekerjaannya yang rapi dan memuaskan mendatangkan banyak klien baru untuk usaha Pak Said. Mandri bangga melihat sentuhan tangannya kini berada di rumah-rumah orang kaya. 

Fisik Nuning yang melemah menjelang persalinan saat itu, membuat dokter mengambil keputusan operasi. Lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Dimas. Dimas membawa kebahagiaan tersendiri bagi Karyo. Potongan jiwa yang ikut mati ketika Sumarto berpulang, kembali bangkit saat merangkup Dimas kecil. Karyo merasa lebih hidup, namun sayangnya ini tak sejalan dengan kondisi tubuh yang mulai sakit-sakitan. Yang tak disangka pasangan ini, membesarkan anak di usia senja ternyata jauh lebih berat dari perkiraan mereka. Mandri yang sibuk dan kini ikut Pak Said ke berbagai kota, kadang menyempatkan diri menengok orang tua dan adik bungsunya. Nuning pun harus berjibaku, mengurus suami sakitnya dan Dimas, yang tentu butuh perhatian penuh ibunya. Kebutuhan hidup yang meningkat serta tak mungkin mengandalkan Mandri terus-terusan, memaksa Nuning menawarkan jasanya sebagai pembantu rumah tangga pulang-pergi di komplek sebelah. Kadang Dimas kecil dititipkan ke tetangga, sering pula diajak bekerja. Dunia menjadi lebih berat bagi Mbok Nuning saat akhirnya Karyo wafat. 

***

“MBOK...MBOK BUKA MBOK!” 

Ketukan keras di pintu membuyarkan kantuk Mbok Nuning yang baru saja memejamkan mata.

“Ada apa, Nak?”

“Bagi dua ratus ribu, Mbok!? Cepetan aku butuh sekarang!”

Belum juga mendapat respon apapun, Dimas sudah menggerayang kamar ibunya. 

“Tadi ‘kan Mbok kerja sampe sore, pasti ada tambahan ‘kan? Aku butuh sekarang!!”

“Mbok belum gajian, Nak, tambahan juga ngga seberapa. Cukup buat beli lauk sampai hari Rabu. Buat apa ‘toh, Nak?”

Dimas tidak menjawab, matanya sibuk mencari sesuatu. Ketemu! Dimas memungut sebuah kaleng, mengambil seluruh lembaran rupiah di dalamnya tanpa mempedulikan si empunya, menghitungnya, lalu mendengus kesal karena tidak sesuai harapan. Dimas pun ke luar kamar dengan membanting pintu, membuat Mbok Nuning menghela napas panjang sambil menggumam mohon ampun kepada Tuhan. 

**

Waktu setelah ibadah subuh adalah waktu sakral untuk Mbok Nuning. Dengan tenaga seadanya, Mbok Nuning akan membawa seember pakaian kotor menuju loteng rumahnya, sepetak area di atas genting yang dijadikan tempat untuk mencuci dan menjemur baju. Di daerah padat penduduk di pinggir ibukota ini, Mbok Nuning senang masih menemukan secuil damai, menyilau matahari terbit ditemani burung gereja yang beterbangan di antara antena televisi yang terpasang di tiang bambu memancang di atap-atap rumah.   

Kicauan burung-burung gereja mengerumuni nasi aking yang terhampar di atas asbes, terdengar seperti kidung yang menenangkan batin resah Mbok Nuning. Kata Karyo, burung gereja itu istimewa, tidak takut pada manusia, dan senang terbang di pemukiman. Masih ada burung gereja di sekitar kita, berarti tempat tinggal kita masih bagus udaranya. Tak ada pagi yang Mbok Nuning lewatkan tanpa kerinduan kepada mendiang suami. 

“Karyo..Karyo... aku kangen kowe, Yo. Rumiyin, ndhidhik lare mboten ngeten niki, kok sak meniko angel sanget. Jaman wis ganti, Yo...”

(Aku rindu kamu, Karyo... Dahulu, mendidik anak tidak seperti ini, sekarang mengapa susah sekali. Jaman sudah berubah, Yo...)

Selesai urusan menjemur baju, Mbok Nuning bersiap bekerja ke rumah Bu Martoyo, dilanjutkan ke rumah Bu Dadi. Dimas seperti biasa masih tertidur, pasti dia begadang main gim semalaman. Sejak dibelikan ponsel oleh Mandri, Dimas seperti tidak mengenal dunia nyata. Waktunya dihabiskan dengan nongkrong sambil main ponsel. Semua uang simpanan Mbok Nuning habis hanya untuk Dimas. Surya, putra sulung Bu Martoyo, bilang kalau anak-anak sekarang pasti sedang keranjingan main gim daring.

Untuk ikut bermain, seorang pemain harus mengisi kredit dengan membeli ‘koin’ menggunakan uang asli. Kata Surya lagi, Dimas setiap hari pasti online dan sering membeli ‘koin’ melalui teman mereka yang lain. Mbok Nuning masih bingung, namun berusaha untuk memahami. Mbok Nuning tidak mengerti ponsel, tapi dia punya satu dibelikan Mandri. Itu pun ponsel biasa, layarnya tidak berwarna, yang penting Mandri bisa telepon ibunya.  

***

Ponsel biasa yang sudah lama tidak berdering itu mendadak bersuara. Mbok Nuning sempat gugup menekan tombol terima telepon. Sebuah suara parau dengan napas tertahan terdengar di seberang sana.

“Mbok? Mbok..?!.”

“Mandri? Halo?! Mandri ini? Halooo?!”

“Mbok, kalau ada yang cari saya, Mbok bilang tidak tahu aja. Sudah ya, Mbok jaga diri ya...”

Belum sempat menjawab, telepon sudah diputus. Perasaan Mbok Nuning tidak enak, kepalanya tiba-tiba pening. Saat akan berangkat bekerja, Mbok Nuning menengok kamar Dimas, dan tidak menemukan anak itu dimanapun. Dimas tidak pulang? Apa mungkin dia main gim dengan anak lain di pos siskamling semalaman? Perasaan Mbok Nuning makin tidak keruan. 

Pagi yang sibuk di kediaman Pak Martoyo, seluruh anggota keluarga dan dua personel berseragam berkumpul di teras rumah. Kedatangan Mbok Nuning disambut Bu Martoyo dengan mimik khawatir. Seorang berseragam dengan alat tulis menghampiri Mbok Nuning dan mulai mencerca berbagai pertanyaan. Rumah keluarga Martoyo semalam kemalingan. Beberapa barang berharga dirampas. Surya berhasil mengenali salah satu dari tiga orang pelaku, yang tidak lain adalah Dimas, putra bungsu Mbok Nuning. Para maling amatir ini pun langsung diamankan subuh tadi. Motif para pelaku diantaranya  kebutuhan uang untuk bermain gim daring. 

Belum juga memproses apa yang terjadi di rumah Bu Martoyo tadi, Mbok Nuning bertemu lagi dengan orang-orang berseragam, kali ini di depan rumahnya. Para pihak berwenang ini datang bersama Pak Said, mengabarkan bahwa mereka mencari Mandri yang kabur membawa uang renovasi rumah seorang klien senilai hampir dua milyar. Sebuah kabar yang membuat sesak dada, Mbok Nuning pun jatuh pingsan. Pak Said dan yang lainnya pamit pada tetangga, dan akan kembali untuk mencari keterangan dari Mbok Nuning esok hari.  

***

Waktu setelah ibadah subuh adalah waktu sakral untuk Mbok Nuning. Kali ini, tak ada ember yang dibawa ke loteng. Tali jemuran berwarna oranye yang biasa melintang, kini menjadi simpul di bawah tiang bambu. 

“Karyo...

“...aku kangen...”

Kibasan kaki yang menggantung, membubarkan sekawanan burung yang sedang menggerumuti nasi aking. Santapan terakhir mereka, karena tak ada sisa nasi yang bisa dikeringkan. Besok-besok mungkin tidak ada lagi burung gereja yang hinggap di atap rumah ini.

Read More

Di Suatu Rabu

28 January 2023

Photo by Lisa Fotios on Pexels.com

Mari duduk bersamaku di kedai kopi. Kita pilih tempat di samping jendela besar dengan pemandangan ke arah jalan, supaya mataku bisa sesekali melarikan diri dari tatapan teduhmu itu. Ya, aku suka kopi hitam tanpa gula sekarang.  Datang juga masanya untuk mulai mengurangi minuman manis. Apa kabarmu? Berapa tahun? Tiga belas katamu? Sungguh hari Rabu yang absurd di bulan Januari. Kita bertemu lagi karena sebuah aplikasi. Tidak, aku tidak terburu-buru, mari kita nikmati dulu momen langka yang kita tahu tak akan kejadian lagi. Kecuali kalau, aku dan kamu berkehendak sama. Begitu kan? Ceritakan padaku banyak hal. Seperti dahulu.

Kau masih mendengarkan The Strokes? Atau hari-harimu kini dimulai dengan ritual Cocomelon di layar? Tidak, anakku sudah di sekolah dasar. Tidak lagi tertarik pada nursery rhymes. Ya, hanya ada satu. Kamu? Wah, tidak menyangka kamu bisa jadi ayah tiga anak. Kukira kamu bukan laki-laki yang menginginkan keturunan. Kamu pernah bilang itu padaku. Tujuan menikah bukan anak, jangan membebani diri, katamu. Wah, sudah pasti kita takkan ke mana-mana. Karena dahulu menjadi ibu adalah cita-citaku. Wanita hebat dia, bisa mengubah pola pikirmu itu.

Aku melakoni peranku dengan cukup baik. Ya, setidaknya menurut bapaknya anakku. Tentu, aku masih melukis, beberapa karyaku ada di galeri ternama. Kamu tahu saja, ya pasti dibantu orang dalam. Bapaknya anakku itu kenal baik dengan banyak kurator. Apa? Kamu masih menganggapku seperti Rara Mendut? Lantas, apa kamu masih berkhayal kamu itu Pranacitra? Tidak, tidak, kita bukan seperti mereka. Aku tidak mau mati bersamamu. Atau bisa juga iya, hanya saja aku tetap memilih dinikahi Tumenggung Wiraguna, agar hidupkku aman saja berlimpah kesejahteraan. Nyai Ajeng bisa kusingkirkan dengan mudah bagai menjentikkan jari. Begitu, kan? Ah, mengapa mereka tidak membuat kembali filmnya ya? Kamu tahu kan rasanya ada yang gatal sewaktu melihat Meriam Bellina memerankan Raden Rara Mendut. Dahulu kan mencari aktris itu susah sekali. Sekarang rasanya banyak aktris muda berbakat. Perempuan manis berkulit gelap dari pantai utara, diperankan oleh wanita keturunan Belanda berkulit terang itu benar-benar mengangguku.

Ah, sialan, kamu tertawa. Manis sekali. Kerutan di sisi matamu mulai kentara. Berapa usia kita sekarang? Tahun ini aku tiga puluh delapan. Sama ya? Aduh, jangan gombal. Tentulah aku menua. Jika menurutmu tidak begitu terlihat, percayalah skincare yang harganya tidak murah itu memang bekerja dengan baik.  Rambutku juga mulai beruban. Tidak, tidak, aku kapok mewarnai rambut. Aku harus berjuang lama untuk mengurusi rambut rontok.

Aku dan kamu terdiam. Sebuah lagu diputar di kedai ini. Stolen Dance oleh Milky Chance. Lalu, kamu tertawa lagi. Ya, pasti. Mengapa ada sebuah kebetulan-kebetulan yang menggelitik seperti ini ya? Aku tahu, sepuluh tahun lalu aku masih membuka inbox Facebook-ku. Tautan lagu ini barangkali masih ada di histori percakapan kita.


We need to fetch back the time

They have stolen from us

And I want you

We can bring it on the floor

You've never danced like this before

We don't talk about it

Dancin' on do the boogie all night long

Stoned in paradise, shouldn't talk about it


Kita bukan lagi mahasiswa semester lima. Kamu kira dua belas tahun tidak bersua, aku masih orang yang sama? Jika aku mengikuti ideal versimu, tentu tidak sebegini nyaman hidupku. Ya, orang-orang berubah. Seratus  poin untukmu. Tapi lihat, ada juga yang tidak berubah? Kamu masih membawa buku ke mana-mana. Boleh lihat buku apa itu? Ah, aku juga baru menyelesaikan buku itu. Bahkan, sudah mengulasnya di laman Insta-ku. Kau tahu? Mengapa tidak bilang kamu follow aku? Baik, aku follow balik ya. 

Betul, setelah sekian lama akhirnya aku sempat membaca Murakami-mu yang maha agung itu. Tidak, aku tidak kecewa. Tapi, tuduhan-tuduhan kalau dia misoginis memang nyata. Aku hanya tidak suka pada tokoh-tokoh perempuan yang menye-menye begitu. Maksudku, seakan-akan semua perempuan ini sangat bergantung pada si Watanabe. Tidak, aku tidak membenci Watanabe. Hanya penasaran kupikir dia akan ikut mati juga. Ya, ya, aku baru saja memesan judul yang kau sebut itu. Banyak ulasan bagus soal buku itu. Kalau ada waktu luang, tentu kubaca.

Lihat, sudah satu setengah jam kita di sini. Aku harus segera beranjak. Apa katamu? Tentu saja Tumenggung Wiraguna memberikanku mobil pribadi. Aku hanya malas membawanya. Aku lebih suka berpindah dari satu ojek ke ojek lain lalu naik bus atau taksi. Tidak repot mencari parkir.

Mari kita lanjutkan perjalanan.

Empat puluh empat menit terlewati.

Baiklah, aku turun di sini. Terima kasih karena sudah berhati-hati. Juga karena tidak mengajakku ngobrol dan membiarkanku menikmati album Taylor Swift yang baru. Oh, tentu saja  atas nostalgia kita tadi. Tidak, aku tidak tahu. Tidak perlu mengupayakan hal-hal yang kita tahu benar tidak ada ujungnya.

Selamat siang.

Aku beri kamu bintang lima.

Selamat bekerja kembali.

Read More

The Sea Lions and The Carousel

29 March 2021

pic by Praphaphan on Pexels.com

 

Aku memeluk erat Rahmat dari belakang tubuhnya. Kuhujani tengkuk yang menggosong terbakar matahari itu dengan kecupan-kecupan. Kuhirup wangi tubuhnya lekat-lekat. Parfum murah tiruan beraroma kayu, bercampur peluh setengah hari dan bau amis ikan-ikan kecil. Aku lega melihat dia bisa  tersenyum tipis. 

Rahmat mengangkat kakinya dari air. Jari jemari yang mengkerut dan keriput itu, aku tahu dia sudah terlalu lama duduk termangu di tepi kolam. Rahmat melenguh, menatap nanar ke arah bangku penonton. Kalau tak ada tragedi itu, mungkin sekarang gelanggang ini sedang riuh sorak sorai tepuk tangan karena trik-trik baru yang dipertunjukkan oleh Surti dan Tedjo.

 Surti yang mendadak mati membuat Rahmat terpukul. Namun dalam hati, aku bahagia bisa jadi tempat sandaran Rahmat yang sedang berduka saat ini. Delapan bulan berpacaran, aku tak pernah rasakan perhatian istimewa darinya. Waktunya terkuras hanya untuk Surti dan Tedjo, primadona di Taman Bermain. Tiap kami berkencan yang dia ceritakan hanyalah soal dua singa laut bodoh itu. Rahmat adalah pawang mereka selama lima tahun. Sementara, aku cuma punya keluh kesah tentang anak-anak berebut antrean masuk, yang jadi pemandangan sehari-hari dari balik loket komidi putar.  Aku malu mengakui ini, tapi aku cemburu pada Surti dan Tedjo. Semua rahasia hidup, bahkan yang gelap sekalipun, Rahmat bagikan pada mereka. Singa laut itu cerdas dan tak ada hewan yang menghakimi, katanya waktu itu.

Baru saja aku mereguk degup karena bibirku dan Rahmat saling bertemu, suara erangan Tedjo menggema di seluruh arena. Rahmat pamit sebentar ke kandang di belakang panggung, barangkali Tedjo bosan, ujarnya. Ah, binatang sialan. Menganggu saja.

Aku berjongkok di tepi kolam pertunjukan, menyibakkan air sambil menunggu Rahmat kembali. Tiba-tiba kurasakan sebuah hantaman di punggung. Sangat keras hingga aku tercebur ke kolam sedalam dua meter itu. Aku panik! Aku tak pandai berenang! Tanganku berusaha menggapai apapun, namun nihil. Dari pandangan redupku, aku lihat sosok hitam legam dan besar, berpijak tegap di pinggir kolam. Sosok itu meraum nyaring ke arahku. Tedjo kah itu?! Astaga, benar Tedjo! Aku ingin berteriak tapi tak mampu. Ah, Tedjo, maafkan aku. Sungguh aku cuma ingin membuat Surti sakit. Tidak lebih. Aku tak mengira kerang busuk itu malah membunuhnya.

Aku mengenali suara Rahmat meneriakkan namaku. Mulanya terdengar lantang, lalu sayup-sayup. Kemudian, suara-suara perlahan menghilang. 
Read More

Si Buas yang Bebas

14 December 2020

 

Photo by Marina Reich on Unsplash


Dengan langkah terseok dan napas tersengal, Arya berjalan ringkih menuju dapur di bagian belakang rumah. Tangan kanannya memegangi luka menganga di pelipis yang mulai bengkak dan basah oleh darah. Tangan lain menggeledah tiap sekat lemari penyimpanan, untuk mencari benda serupa tali seperti yang diperintahkan Marni, ibunya. 


Malam ini adalah salah satu dari malam-malam ganjil yang terjadi pada musim kemarau. Bertahun lalu, Mbah Yitno, seorang tetua di kampung, menuturkan perihal maut yang akan terjadi saat hujan membanjiri sungai dan membasahi sawah yang kering kerontang akibat tuarang panjang. Tiga hari berselang, Mbah Yitno bertemu ajal. 


Warga kampung menganggap ramalan Mbah Yitno hanyalah racauan orang mau mati. Sampai seminggu kemudian, Pak Gito, wakil sekretaris desa, ditemukan tewas secara misterius di pinggir sungai yang alirannya mendadak deras karena hujan lebat di malam sebelumnya. Tak ada tanda-tanda penganiayaan, atau luka berarti. Hanya tubuh yang terbujur kaku. Malam yang aneh, karena malam-malam selanjutnya tidak ada lagi hujan, begitu pula di siang hari. Kemarau pun berlanjut hingga habis masanya. 


Tahun berikutnya, sawah kembali mengering, air sungai mendangkal, masih ada empat purnama menuju musim hujan. Lalu, malam ganjil itu terjadi lagi. Tahu-tahu badai mampir dan kali ini membawa angin ribut. Banyak sudut desa yang porak poranda. Paginya, beberapa warga menyusuri sisi sungai, sekadar memeriksa apakah ada mayat seperti tahun lalu. Memastikan nubuat Mbah Yitno hanya kebetulan belaka. Warga bersyukur tak ada apa-apa, hanya bangkai tikus dan ikan-ikan mati terbawa arus. 


Di siang hari, ada kegaduhan tak terelakkan di kampung. Adalah Saprudin, suami dari Yuk Tinah, kawan baik Marni sesama pedagang di pasar, ditemukan mati bersama seorang pelacur tua dengan cara yang tak lazim, di sebuah bilik lokalisasi di kampung sebelah. 


Marni tidak merekam sedikitpun kesedihan dalam wajah Yuk Tinah saat mendengar berita itu. Namun, Marni melihat jelas pancaran amarah yang begitu nyala dari mata wanita yang selama ini menjadi telinga atas segala keresahan Marni.


“Aku kerja banting tulang buat keluarga, wong edan dia malah enak-enakan main gila! Sudah pasti karma dia!” ucap Yuk Tinah penuh murka saat pamit pada Marni.


Tak kuat lagi dengan gunjingan warga soal kematian suaminya, Yuk Tinah pun membawa dua putrinya angkat kaki dari kampung. Buang sial, katanya.


***


Malam ini adalah salah satu dari malam-malam ganjil yang terjadi di musim kemarau. Hujan turun dengan lebatnya sedari sore, memuntahkan air bah yang menyebabkan sungai meninggi dan arusnya menggerojok.


Marni dan Arya berjalan tertatih menuju sungai untuk menyelesaikan urusan mereka. Arya menatap ibunya penuh kebingungan. Ribuan pertanyaan di kepala Arya tersirat jelas di matanya. Marni pun sama, kelimpungan, gugup, sangsi, dalam dirinya ia pun rasakan luapan kegelisahan. Tapi ini sudah buntu.


“Kamu pegang kakinya, ya. Ibu hitung sampai 3, kita lempar sama-sama…” perintah Marni pada Arya.


“Satu…dua…tiga. Lempar!!!”


Dalam hitungan detik saja jasad Darto sudah hilang dari pandangan, terbawa aliran sungai yang pesat. Ada sesak yang begitu dahsyat di dada Marni, tapi tak pungkiri secuil kelegaan di sana. Tak bisa lagi bedakan apakah ini tetes hujan atau air mata menitik di pipi Marni.


Darto adalah cinta pertama bagi Marni, suami dan ayah untuk Arya yang ia kasihi. Namun sore tadi, tak bisa lagi Marni tahan melihat Arya, belahan jiwa semata wayang, dipukuli dan diperlakukan bak karung pasir oleh Darto, akibat kalah berjudi.


Menghilangkan nyawa Darto malam ini adalah manifestasi dari rasa sakit dan semua luka yang terpendam terlalu lama. Represi fisik dan mental yang dialami selama dua puluh tahun menikah, memantik kenekatan Marni untuk meyudahi penderitaan. Jiwa-jiwa buas di dalam Marni akhirnya menjengul untuk melakukan perlawanan.


Marni mendekap erat Arya yang menangis kencang di peluknya. Seperti tujuh belas tahun lalu saat ia baru lahir. Berdua mereka berusaha memproses semua kejadian malam itu.


“Gimana orang-orang kampung nanti, Bu?” tanya Arya dengan suara tercekat


“Biar saja mereka kira ini adalah nujuman Mbah Yitno. Kita kemasi barang-barang, bawa apa saja yang penting” ucap Marni sambil merangkul Arya berjalan menuju rumah.


Di jalan sesekali Marni mengamati langit pekat malam itu. Hujan yang ganjil, batinnya.


Marni pun memantapkan langkah mengikuti jejak Yuk Tinah. Pergi, buang sial.  

Read More

28 November 2012

it's been a month I become a part-time teacher, in teaching English and Science for grade 9. never thought I could really do this like, seriously. I still want a 'real' job either, which 'real' here refers to a permanent one. a 9-to-5 job with regular salary, annoying boss perhaps, something like a real career.  On the other side, I feel blessed, that somehow, I was given a chance to do somewhat teaching--well, I prefer to call it, a session of sharing knowledge. this I always tell the kids, I have no experience in becoming a teacher, nor in mastering teaching method, so I wish they'd be informed and understand my situation.

so, what's my impression? I must say, teaching is fun. yet hard. it's even harder than the studying itself. the advantage of becoming a teacher is, you are forced to keep learning, to maintain your personality traits, to read a lot and a lot, because whether you realize or not, you are the source of  the knowledge itself--at least in a class.

reminiscing my young age, I used to be so ignorant yet so careless to the teachers. but I have been taught, to not disrespect to any kind of professions. but, now somehow I see, teacher is indeed an honorable profession ever. though I'm not directly responsible to the kids' grades at school, but I feel I ought to enforce life's values to them--hey, it's the next generation we're talking about :p

one thing I note to my self, I don't expect high salary. because, it just can't. ok, here, the place where I teach, it belongs to so-called the poor. these kids (or the parents) can not afford the expensive course, while in the next four months, these kids will be having a national exam. so yeah, I can hand some helps by teaching them, in order to prepare the exam.

and... I think that's it.
Read More

stiletto merah dan Louis Vuitton Speedy

04 December 2010


Ivana mengambil sebuah cocktail dress berwarna merah dari lemarinya. backless, satin, dengan korsase bunga mawar hitam di sebelah kiri. Pria itu yang memilihkannya untuknya dulu. Cantik, anggun dan berkelas, kata Pria itu ke Ivana. Merah warna yang menantang, membuat percaya diri dan membuatmu terlihat sangat cantik, kira-kira begitu yang Pria itu katakan padanya di sebuah butik Gucci di Fifth Avenue, NY sekitar 6 bulan lalu.

Setelah mengenakan dress tersebut Ivana kemudian mengambil sebuah stiletto merah merk Stuart Weitzman. Stiletto dengan hak 12 cm itu juga dipilihkan oleh Pria itu. Alasannya sama. Merah membuatmu lebih cantik, Ivana. Lalu dia memandang cermin, aku cantik ya aku cantik dan muda, kata Ivana dalam hati. Riasan wajah glamor dengan make-up oleh MAC menghiasi kulit putihnya, lipstick merah terang untuk bibirnya. Rambut? Bagaimana dengan rambut?? Ivana agak panik. Lalu dia diam. Mengingat-ingat, Pria itu selalu bilang dia menyukai rambut Ivana yang tergerai panjang. Tidak diapa-apakan. Memang sebaiknya tidak, begini saja, tergerai lepas. Pikir Ivana.

Ivana membuka laci samping tempat tidurnya, mengambil sesuatu yang lama tersimpan disitu. Kemudian dia mengambil secarik kertas surat yang ia terima kemarin malam. Membacanya lagi, emosinya pun naik kembali. Dia berteriak kencang, seperti kesakitan. Bukan tubuhnya yang sakit. Tapi hatinya. Apartemen penthouse yang ia tempati sendiri terlalu besar hingga sepertinya tak ada yang mendengar teriakannya. Ivana pun menangis meringkuk di samping tempat tidurnya. Tak lama ia bangun, sadar bukan saatnya menangis sekarang. Diraihnya Louis Vuitton Speedy coklat yang terletak di meja riasnya, hand-bag kesukaannya. Oh, kali ini bukan pilihan Pria itu. Tas ini pilihannya. Louis Vuitton selalu menjadi tas favorit Ivana.

Keluar dari penthouse-nya, Ivana berjalan menuju Audi R8 yang terparkir di luar gedung apartmennya. Mengendarainya menuju sebuah rumah yang tak pernah mau ia datangi, tapi kali ini harus. Sebelum keluar mobil, ia menatap kaca spion. Memastikan riasannya sempurna. Wajahnya cantik, tak ada cacat. Tentu aku cantik, kata Ivana dalam hati. Menenteng LV Speedy-nya, ia berjalan dengan angkuh menuju pintu rumah itu. Pria itu benar, stiletto ini membuatku lebih percaya diri, kata Ivana dalam hati. Ini pertama kalinya ia berdiri di depan pintu kayu dengan ukiran Jawa rumah ini, mungkin pula terakhir kalinya. Dalam beberapa kali ketukan, muncullah seseorang dari dalam.

“Ny. Herman?” Tanya Ivana pada wanita di depannya. Wanita itu baru 50-an namun terlihat lebih tua dari usianya.

Wanita itu tersenyum hangat. penampilannya jauh berbeda dengan Ivana. Hanya mengenakan sweater abu-abu tua dan celana training warna senada, wajahnya pucat, rambutnya diikat seadanya, aga berantakan, namun matanya memancarkan sebuah keramahan.

“Ya? Saya sendiri.” Kata wanita itu sambil terbatuk-batuk. Semua orang yang bertemu dengannya pasti bisa menduga kalo wanita itu sedang sakit.

Wanita itu menjerit ketika Ivana tiba-tiba menyondongkan pistol ke arah wajahnya, yang diambil dari tas tangannya.

Dan bunyi tembakan kedua membuat rumah itu tiba-tiba sunyi.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, pikiran Ivana pun melayang jauh.

Aku lelah seperti ini..

tak boleh ada yang memilikimu, tidak juga istrimu.

semoga, disini kau bisa lihat, mati pun aku lebih cantik, aku mahal, aku lebih berharga. ..




*pic taken from google

Read More