Waki waka wakakakk

09 September 2025

Photo by JING on Unsplash


It was a breezy Saturday when I took my youngest child on a morning stroll around my parents' housing complex. I stumbled upon a familiar face, that he recognized me as well, by giving me a smile and a nod. Took me a while to realize that it was the face I'd been trying to erase forever from my childhood recollection. I hastened my pace, and put my poker face; I turned my face away, hoping he wouldn't say me a hi and gave in a small talk. Inside, I felt like out of breath, my head suddenly felt dizzy, I almost lost my balance.  

After few meters away, I looked back just to check him out. He's gone, probably took a turn in the next street alley towards the school that he used to teach there. And it was my school. 

That man, lean and slender figure with a friendly smile was Mr. B, a math and Bahasa Indonesia teacher in my elementary school. He was everybody's favorites, including some parents. He was sociable, he loved to chat and to greet everyone. He knew Backstreet Boys and Westlife, he got mingle easily with students. He once took a guitar and played a song by The Moffatts, making good impression especially to the female students. But, it wasn't on me. 

I wasn't affected by his so-called charismatic traits. In fact, I had this indescribable rage inside towards him, or whatever it was I had, I didn't know how to define that. 

Until I'm on my 30's. I recalled the vague memory of him and I validated this feeling of disgust. Mr. B had touched me without my consent--damn, even writing this down made me want to vomit. The 12-year-old of me was so clueless about what happened, I told nobody and I buried the memory deep down inside, so no one, not even myself could ever find out ever again. 

Few months ago, my mother told me, Mr. B had passed away. Many people including his ex-students came to his funeral to pay the last respect. Suddenly, I feel relieved. Suddenly, the whatever-uncomfortable-feeling-I-had slowly fading away. I still hold that resentment, apparently. Do I forgive him? No, never. There's this paradox that keeps pondering. If your harasser died, shouldn't you cherish on that? 

Read More

Di Hari ke-7

08 September 2025

 

Photo by camilo jimenez on Unsplash

Di hari ke-7, Muryati membawa dua ember tahi kambing. Dini hari tadi ia mengendap-endap di alun-alun belakang masjid besar yang berubah menjadi tempat penjualan hewan kurban. Menggunakan sekop dan pengki, Muryati menyerok timbunan tahi segar, menahan rasa mual demi melangsungkan misinya. Sebelumnya, Muryati sudah pernah membawa tahi kuda dan ampas comberan. Namun, sejak Parman, tetangganya yang seorang supir dokar keliling, pindah kontrakan, Muryati tidak tahu dimana lagi mencari kotoran kuda. Ketika memasuki musim lebaran haji dan hewan ternak sedang mudah ditemui, maka, Muryati pun beralih ke tahi sapi dan kambing. Sama kotornya, sama najisnya.

Melalui celah di antara tembok dan pagar besi yang bengkok, Muryati masuk diam-diam dari sisi kanan, sebagaimana yang ia lakukan beberapa hari kemarin. Celingak-celinguk matanya memindai sekeliling. Mengencangkan kupluk dan kaos bekas yang ia pakai untuk menutupi separuh wajahnya. Begitu merasa aman, ia naik ke anak tangga pertama teras pendopo. Muryati menyenderkan tubuhnya pada satu pilar paling ujung. Mengistirahatkan tangannya yang mulai keram karena membawa ember-ember tadi. Pilar-pilar besar tak berguna, batin Muryati, memperindah hanya bangunan luar saja, tapi dalamnya busuk.  

Muryati menuang ember pertama berisi tahi, dengan sekop ia ratakan sampai sepanjang dua lantai granit seukuran 80 sentimeter. Kemudian, ember kedua juga diratakan ke bawah sama panjangnya. Jika tidak tahan pada aromanya, ia tidak segan muntah di atasnya sekalian. Hari ini, Muryati tidak begitu waspada seperti sebelumnya. Ia tidak sadar sepasang tangan sudah siap menyergap dari belakang.

“NAH YA, KETAHUAN LO YA…” Didin, kepala petugas kebersihan, sengaja datang lebih pagi untuk menangkap basah oknum yang mengotori pendopo depan kantor walikota. Didin yang bertubuh tambun terlalu kuat untuk dilawan. Muryati pun pasrah digelandang ke belakang pendopo.

“MUR?! SERIUS?!” Mata Didin membelalak tidak bisa menyembunyikan rasa kaget begitu membuka penutup wajah Muryati.

“Kenapa, Mur?! Kenapa?!”

Muryati tertunduk lesu. Ia lalu jongkok dan membenamkan kepalanya di antara lutut, tangisnya meledak.

**

Didin adalah sahabat dekat Mardi, almarhum suami Muryati. Mereka bertemu waktu masih jadi buruh di pabrik tekstil. Sejak Mardi wafat, bukan sekali dua kali Didin membantu Muryati dan anaknya. Keadaan menjadi lebih berat untuk Muryati sejak anak semata wayangnya, Ranggie, meninggal dunia tiga bulan lalu.

Tragedi yang menimpa Ranggie sempat menjadi headline di berbagai kanal berita. Pelajar berusia 16 tahun itu tewas setelah jatuh di lubang menganga di trotoar pada jalan utama. Lubang berdiameter 1.5 meter tersebut adalah salah satu proyek galian pemerintah daerah untuk membenahi saluran air. Tidak adanya penerangan layak membuat Muryati murka atas kelalaian petugas. Utusan walikota hanya mengantarkan karangan bunga beserta amplop duka. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada pernyataan menyesal oleh pemerintah setempat. Setelahnya, Muryati dibayangi kebencian pada segelintir orang di bangunan berpilar mewah itu.

Dua bulan setelah kematian Ranggie, Muryati mendatangi kantor walikota meminta pertanggungjawaban, yaitu menghentikan pekerjaan jalan seperti bongkar pasang trotoar di jalan utama. Putranya bukan korban pertama. Muryati berkeliling mewawancarai masyarakat sekitar untuk mengumpulkan korban dari proyek-proyek tidak jelas yang meninggalkan bekas-bekas galian yang menyengsarakan warga. Puluhan kendaraan roda dua yang tergelincuh di jalan berlubang, apalagi jika hujan dan lubang di jalan menjadi genangan. Sepanjang tahun, terutama mendekati kuartal akhir, akan ada banyak perbaikan di jalan-jalan utama. Saluran air, kabel listrik, kabel optik, peremajaan gorong-gorong dan lainnya.   Sebagai tukang ojek dan pengantar barang yang berkutat di jalanan, tentu saja Muryati geram.

Protesnya tidak diindahkan saat itu. Muryati digiring oleh petugas dan diberi pengarahan untuk mengisi kritik dan saran pada selembar kertas yang semua orang juga tahu itu hanya prosedur retorik. Mana pernah ada pemangku kuasa yang benar-benar membaca kertas-kertas berupa keluhan warga, lalu mengamininya. Muryati yang masih berselimutkan duka, kemudian naik pitam dan melampiaskan amarah pada petugas yang menyuruhnya pulang.

“KAYA TAI LO SEMUA! LO JUGA! TAI LO! TAIII…” teriak Muryati sambil menunjuk-nunjuk muka dua petugas keamanan. Maka, begitulah yang Muryati lakukan selanjutnya, membawakan tahi kepada mereka.

**

Akhir pekan panjang karena libur hari raya, kantor walikota pun sepi karena tak ada aktivitas. Didin menutup sisi kanan pendopo dengan potongan asbes dan triplek mengelilingi area yang tertimbun tahi. Lalu, ia berikan palang berupa kayu dan papan penanda, sehingga yang melihat akan menyangka di titik tersebut sedang diperbaiki. Didin memberikan instruksi pada anak buahnya kalau pendopo depan hanya boleh dibersihkan olehnya.

Satu, dua, tiga hari berlalu. Pada hari keempat tahi di lantai pendopo mulai mengering. Meninggalkan kerak dan aroma yang melekat. Semua orang mengeluhkan bau. Ada yang sampai muntah-muntah karena tak tahan. Bau yang menguar terbawa sampai ke ruangan walikota di lantai dua, yang kemudian menyuruh seorang pegawai senior untuk membereskannya.

Dua orang petugas mencari atasan mereka, selaku penanggungjawab kebersihan gedung. Mereka berpencar dari gerbang hingga ke gudang di bangunan paling belakang, namun sayangnya, keberadaan Didin tidak diketahui hingga saat ini.

Read More

Burung Gereja yang Tak Lagi Hinggap

04 September 2025

Photo by Matthew Harris on Unsplash

Mbok Nuning kehabisan kata-kata begitu pulang mendapati anak remajanya, Dimas, masih di posisi yang sama seperti saat dia meninggalkan rumah tadi. Berselonjor di teras, matanya terpusat pada gim daring di ponsel. Beberapa jam sekali pindah ke dalam untuk mengambil pengecas, lalu lanjut main lagi. Tidak jarang Dimas mengumpat sembari mengisap rokoknya. Entah mulai kapan anak itu merokok, mungkin tidak lama setelah Karyo, suami Mbok Nuning yang juga bapaknya Dimas, mangkat lima tahun lalu.  

 Walau tiap hari juga begini, jika masih ada tenaga sisa, Mbok Nuning akan menghampiri Dimas, membilangi kalau baiknya kamu makan dulu, mandi, ibadah, atau lakukan apapun yang lebih berguna dulu. Kadang Dimas hanya melenguh, namun seringnya membentak, mengatainya cerewet, bawel, dan ngga usah ngurusi. Hari itu, Mbok Nuning memilih langsung ke kamarnya. Terlalu lelah kalau harus mendebat Dimas. Sore tadi Mbok Nuning diberi kerja tambahan oleh Bu Dadi, membersihkan gudang yang lama tak tersentuh. Dan itu dikerjakannya setelah menyetrika tiga keranjang baju di rumah Bu Martoyo. 

Selesai membersihkan tubuhnya, Mbok Nuning mematut diri di cermin. Menggepit segaris kulit yang menebal di bawah pusarnya. Bekas luka yang dia bawa seumur hidup. Tujuh belas tahun lalu, Karyo bilang Mbok Nuning membawa keajaiban. Di usia yang hampir setengah abad, Mbok Nuning hamil lagi. Dipikirnya sudah mati haid, ternyata kehamilan yang pernah dinanti bertahun-tahun lalu terjadi. Mereka yang menikah di usia belia sebenarnya sudah memiliki dua anak laki-laki. 

***

Sumarto, lahir setahun setelah Nuning dan Karyo menikah. Mandri, lahir dua tahun kemudian. Saat Sumarto dan Mandri remaja, Karyo mengutarakan keinginan untuk punya anak lagi, tak masalah laki-laki atau perempuan. Nuning pun tak keberatan, karena ia juga kepingin menimang bayi lagi. Bertahun-tahun mencoba, namun tidak berhasil. Mereka pun mengubur keinginan itu, saat Sumarto membawa seorang gadis ke rumah yang diperkenalkannya sebagai calon istri. 

Baru menggenapi usia dua puluh, Sumarto sudah jadi suami orang. Sementara Mandri, tidak ingin cepat menikah. Buat Mandri pernikahan hanya akan menambah sengsara dan tidak mengeluarkannya dari lingkaran kesusahan. Dahulu, Karyo hanya sanggup menyekolahkan Sumarto dan Mandri sampai tingkat menengah pertama. Tentu saja karena ketiadaan biaya. Karyo lalu mengajak anak-anaknya ikut bekerja sebagai kuli bangunan bersama seorang kontraktor bernama Pak Said. 

Suatu waktu, Sumarto menyetujui ajakan seorang teman menjadi transmigran di pulau seberang. Dengan iming-iming biaya hidup murah dan gaji besar, Sumarto dan Ayu, istrinya, menjadi pekerja di perkebunan sawit. Dua tahun pertama, Sumarto selalu memberi kabar dan mengirimkan uang kepada orang tuanya. Kadang disertai oleh-oleh khas kota setempat. Tahun-tahun berikutnya Sumarto mulai sukar dihubungi. Bagai tersambar petir di siang bolong, Karyo dan Nuning menerima kabar bahwa Sumarto dan Ayu ditemukan tewas di tempat kerja mereka. Pihak berwenang menyatakan kematian pasutri itu adalah murni kecelakaan kerja. Nuning dan Karyo tentu sangsi, tapi tak bisa apa-apa. Mereka bahkan tak bisa membayar ongkos pemulangan kedua jenazah, apalagi harus berurusan soal penyelidikan yang tidak pasti. Ikhlas pun menjadi satu-satunya pilihan. 

Kedukaan yang ternyata tidak habis dalam waktu sebentar, membuat Karyo dan Nuning harus mendekap sungkawa ini selama-lamanya. Kemudian, senyum-senyum mulai merekah saat kehamilan Nuning. Karyo yang tidak lagi bekerja sebagai kuli bangunan karena usia, kini bersemangat lagi. Tidak ingin mengandalkan uang kiriman dari Mandri, Karyo pun menjajal berbagai pekerjaan, mulai dari pengangkut sampah, pemungut puing dan besi bekas, sampai bersih-bersih di warung tegal. 

Walau sungkan, Mandri yang kini menjadi asisten Pak Said, kadang menawarkan pekerjaan kepada ayahnya. Mandri adalah pekerja yang ulet. Sejak diajak sang ayah bekerja bersama Pak Said dulu, Mandri lalu mempelajari keahlian-keahlian baru. Dari menjadi tukang gali, Mandri belajar mengenai struktur bangunan, jenis material, pemasangan lantai granit, parket, hingga pengecatan dalam dan luar ruang. Tidak heran Pak Said menjadikannya mandor, kemudian diangkat sebagai asisten. Pekerjaannya yang rapi dan memuaskan mendatangkan banyak klien baru untuk usaha Pak Said. Mandri bangga melihat sentuhan tangannya kini berada di rumah-rumah orang kaya. 

Fisik Nuning yang melemah menjelang persalinan saat itu, membuat dokter mengambil keputusan operasi. Lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Dimas. Dimas membawa kebahagiaan tersendiri bagi Karyo. Potongan jiwa yang ikut mati ketika Sumarto berpulang, kembali bangkit saat merangkup Dimas kecil. Karyo merasa lebih hidup, namun sayangnya ini tak sejalan dengan kondisi tubuh yang mulai sakit-sakitan. Yang tak disangka pasangan ini, membesarkan anak di usia senja ternyata jauh lebih berat dari perkiraan mereka. Mandri yang sibuk dan kini ikut Pak Said ke berbagai kota, kadang menyempatkan diri menengok orang tua dan adik bungsunya. Nuning pun harus berjibaku, mengurus suami sakitnya dan Dimas, yang tentu butuh perhatian penuh ibunya. Kebutuhan hidup yang meningkat serta tak mungkin mengandalkan Mandri terus-terusan, memaksa Nuning menawarkan jasanya sebagai pembantu rumah tangga pulang-pergi di komplek sebelah. Kadang Dimas kecil dititipkan ke tetangga, sering pula diajak bekerja. Dunia menjadi lebih berat bagi Mbok Nuning saat akhirnya Karyo wafat. 

***

“MBOK...MBOK BUKA MBOK!” 

Ketukan keras di pintu membuyarkan kantuk Mbok Nuning yang baru saja memejamkan mata.

“Ada apa, Nak?”

“Bagi dua ratus ribu, Mbok!? Cepetan aku butuh sekarang!”

Belum juga mendapat respon apapun, Dimas sudah menggerayang kamar ibunya. 

“Tadi ‘kan Mbok kerja sampe sore, pasti ada tambahan ‘kan? Aku butuh sekarang!!”

“Mbok belum gajian, Nak, tambahan juga ngga seberapa. Cukup buat beli lauk sampai hari Rabu. Buat apa ‘toh, Nak?”

Dimas tidak menjawab, matanya sibuk mencari sesuatu. Ketemu! Dimas memungut sebuah kaleng, mengambil seluruh lembaran rupiah di dalamnya tanpa mempedulikan si empunya, menghitungnya, lalu mendengus kesal karena tidak sesuai harapan. Dimas pun ke luar kamar dengan membanting pintu, membuat Mbok Nuning menghela napas panjang sambil menggumam mohon ampun kepada Tuhan. 

**

Waktu setelah ibadah subuh adalah waktu sakral untuk Mbok Nuning. Dengan tenaga seadanya, Mbok Nuning akan membawa seember pakaian kotor menuju loteng rumahnya, sepetak area di atas genting yang dijadikan tempat untuk mencuci dan menjemur baju. Di daerah padat penduduk di pinggir ibukota ini, Mbok Nuning senang masih menemukan secuil damai, menyilau matahari terbit ditemani burung gereja yang beterbangan di antara antena televisi yang terpasang di tiang bambu memancang di atap-atap rumah.   

Kicauan burung-burung gereja mengerumuni nasi aking yang terhampar di atas asbes, terdengar seperti kidung yang menenangkan batin resah Mbok Nuning. Kata Karyo, burung gereja itu istimewa, tidak takut pada manusia, dan senang terbang di pemukiman. Masih ada burung gereja di sekitar kita, berarti tempat tinggal kita masih bagus udaranya. Tak ada pagi yang Mbok Nuning lewatkan tanpa kerinduan kepada mendiang suami. 

“Karyo..Karyo... aku kangen kowe, Yo. Rumiyin, ndhidhik lare mboten ngeten niki, kok sak meniko angel sanget. Jaman wis ganti, Yo...”

(Aku rindu kamu, Karyo... Dahulu, mendidik anak tidak seperti ini, sekarang mengapa susah sekali. Jaman sudah berubah, Yo...)

Selesai urusan menjemur baju, Mbok Nuning bersiap bekerja ke rumah Bu Martoyo, dilanjutkan ke rumah Bu Dadi. Dimas seperti biasa masih tertidur, pasti dia begadang main gim semalaman. Sejak dibelikan ponsel oleh Mandri, Dimas seperti tidak mengenal dunia nyata. Waktunya dihabiskan dengan nongkrong sambil main ponsel. Semua uang simpanan Mbok Nuning habis hanya untuk Dimas. Surya, putra sulung Bu Martoyo, bilang kalau anak-anak sekarang pasti sedang keranjingan main gim daring.

Untuk ikut bermain, seorang pemain harus mengisi kredit dengan membeli ‘koin’ menggunakan uang asli. Kata Surya lagi, Dimas setiap hari pasti online dan sering membeli ‘koin’ melalui teman mereka yang lain. Mbok Nuning masih bingung, namun berusaha untuk memahami. Mbok Nuning tidak mengerti ponsel, tapi dia punya satu dibelikan Mandri. Itu pun ponsel biasa, layarnya tidak berwarna, yang penting Mandri bisa telepon ibunya.  

***

Ponsel biasa yang sudah lama tidak berdering itu mendadak bersuara. Mbok Nuning sempat gugup menekan tombol terima telepon. Sebuah suara parau dengan napas tertahan terdengar di seberang sana.

“Mbok? Mbok..?!.”

“Mandri? Halo?! Mandri ini? Halooo?!”

“Mbok, kalau ada yang cari saya, Mbok bilang tidak tahu aja. Sudah ya, Mbok jaga diri ya...”

Belum sempat menjawab, telepon sudah diputus. Perasaan Mbok Nuning tidak enak, kepalanya tiba-tiba pening. Saat akan berangkat bekerja, Mbok Nuning menengok kamar Dimas, dan tidak menemukan anak itu dimanapun. Dimas tidak pulang? Apa mungkin dia main gim dengan anak lain di pos siskamling semalaman? Perasaan Mbok Nuning makin tidak keruan. 

Pagi yang sibuk di kediaman Pak Martoyo, seluruh anggota keluarga dan dua personel berseragam berkumpul di teras rumah. Kedatangan Mbok Nuning disambut Bu Martoyo dengan mimik khawatir. Seorang berseragam dengan alat tulis menghampiri Mbok Nuning dan mulai mencerca berbagai pertanyaan. Rumah keluarga Martoyo semalam kemalingan. Beberapa barang berharga dirampas. Surya berhasil mengenali salah satu dari tiga orang pelaku, yang tidak lain adalah Dimas, putra bungsu Mbok Nuning. Para maling amatir ini pun langsung diamankan subuh tadi. Motif para pelaku diantaranya  kebutuhan uang untuk bermain gim daring. 

Belum juga memproses apa yang terjadi di rumah Bu Martoyo tadi, Mbok Nuning bertemu lagi dengan orang-orang berseragam, kali ini di depan rumahnya. Para pihak berwenang ini datang bersama Pak Said, mengabarkan bahwa mereka mencari Mandri yang kabur membawa uang renovasi rumah seorang klien senilai hampir dua milyar. Sebuah kabar yang membuat sesak dada, Mbok Nuning pun jatuh pingsan. Pak Said dan yang lainnya pamit pada tetangga, dan akan kembali untuk mencari keterangan dari Mbok Nuning esok hari.  

***

Waktu setelah ibadah subuh adalah waktu sakral untuk Mbok Nuning. Kali ini, tak ada ember yang dibawa ke loteng. Tali jemuran berwarna oranye yang biasa melintang, kini menjadi simpul di bawah tiang bambu. 

“Karyo...

“...aku kangen...”

Kibasan kaki yang menggantung, membubarkan sekawanan burung yang sedang menggerumuti nasi aking. Santapan terakhir mereka, karena tak ada sisa nasi yang bisa dikeringkan. Besok-besok mungkin tidak ada lagi burung gereja yang hinggap di atap rumah ini.

Read More

Cerita dari Ruang Tunggu

14 October 2024

 



Dengan napas ngos-ngosan karena baru saja menaiki tangga sebanyak dua lantai, sampailah saya di ruangan sempit di loteng sebuah rumah sakit tipe C. Ruang seadanya yang disulap menjadi sebuah ruang tunggu untuk keluarga pasien ICU itu bersebelahan dengan rooftop. Jemuran baju-baju dan kasur lipat bertumpuk adalah dua pemandangan yang saya tangkap di sekeliling. Saya disapa oleh seorang perempuan muda berusia awal 20-an saat saya menengok lebih dalam ke ruangan.

“Cari tempat, Kak?” 

Saya mengiyakan, dan kami pun berkenalan. Mila, namanya, ia lalu menunjukkan saya sebuah spot di pojokan, cukup kalau cuma untuk tidur satu orang. Mila meminjamkan saya karpet tipis sebagai alas karena saya hanya membawa selembar bedcover. Rencananya sore nanti saya mau ke rumah dulu untuk mengambil barang lain. Saya dan Mila lalu mengobrol macam-macam, soal menunggui pasien ICU, BPJS, rumah sakit ini dan perasaan-perasaan tidakk menentu sebagai caregiver atau pengasuh orang tua yang sakit.

Ini adalah pertama kalinya Ayah saya masuk ICU karena kesehatannya bertambah buruk setelah dua malam ‘transit’ di IGD. Keadaan pasien ICU yang bisa berubah dalam beberapa saat, mengharuskan adanya keluarga yang stand-by, berjaga-jaga kalau misalnya ada tindakan yang butuh persetujuan secepatnya. 

Mila, sudah empat malam menunggu Ibunya. Ia nyaris tidak bisa kemana-mana karena sebagai anak tunggal, tidak ada lagi keluarga lain yang bisa bergantian. Rumahnya pun jauh dari RS ini. Tujuh bulan sudah Mila mengurus Ibunya sendirian. Ini adalah ketiga kalinya sang Ibu masuk ICU. Entah berapa kali ia harus izin dan cuti dari pekerjaan, hingga akhirnya Mila memilih resign. Mila tidak punya pilihan, karena kalau bukan dia, ya siapa lagi.

Yang berasal dari kelas menengah ke bawah, yang tidak punya dana tambahan untuk membayar pengasuh lain, mau tidak mau harus mengurus sendiri orang tua atau kerabat yang sakit. Menjadi caregiver apalagi untuk orang tua yang sudah tidak bisa mandiri, adalah sebuah ‘beban’ yang tidak tahu harus ditanggung sampai kapan.

Berdasarkan penelitian dari Makara Jurnal Universitas Indonesia, seorang caregiver mengalami penurunan kualitas hidup terutama dari empat aspek utama: fisik, psikis, sosial dan lingkungan. Seorang caregiver, terutama yang sudah lama merawat keluarga sakit, sangat rentan pada stress dan kecemasan (anxiety). Tubuh yang kelelahan memicu pelepasan hormon kortisol, yang membuat tubuh berada mode ‘fight’, mudah stress dan memantik resiko penyakit.

Selain Mila, saya juga berkenalan dengan Ibu Sumirah yang bersama dua anak lelakinya menunggui sang suami selama lima hari terakhir. Sembari menyantap nasi bungkusnya yang sesekali ia tawari pada saya, Bu Sumirah juga mengeluhkan kelelahan dan rasa jenuh tentang ketidakpastian di rumah sakit.

Ruang tunggu ICU melukiskan lika-liku keluarga penunggu anggota yang sakit. Raut wajah kekhawatiran, mulut yang tidak berhenti bergerak merapal doa-doa keselamatan, kadang keputusasaan karena tahu bagaimana akhirnya.

Malam itu, rencananya saya akan bermalam bersama Mila dan Ibu Sumirah. Namun, saat menuju tengah malam, saya mengucap pamit kepada mereka dan penghuni ruang tunggu lainnya. Ayah saya berpulang di pukul 22.10, setelah berjuang 12 jam di ruang ICU. Perkenalan singkat yang memberi makna. Semua momen di hari itu, kini tersimpan dalam memori inti. 
Read More

Kiat-kiat Menghadapi Racun Dunia

10 November 2023



Seorang kawan baik datang ke rumah pada suatu siang. Selagi ia mengantarkan barang pesanan saya, kami kemudian duduk di teras dan bertukar kabar. Diantara kabar baik, sehat, alhamdulillah, terselip juga si X sedang sakit, si Y sudah bercerai, si Z sedang proses cerai juga, si A rebutan anak dengan mantan dan si B memutuskan tali pertemanan. Dalam sebuah pertemuan singkat, semua cerita dan rahasia lantas mengalir deras. Motherhood menelan kami hidup-hidup. Kami yang dulu begitu ringan melangkah, kini setengah nyawa sudah habis dipakai mengurus rumah dan bekerja.

Dalam beberapa jam saja, banyak kelam yang terkuak. Sahabat dekat kami, menjadi korban kekerasan rumah tangga. Kami tidak bisa berbuat banyak lantaran ia tinggal di luar kota. Kawan baik diselingkuhi berkali-kali sampai ingin mati. Seorang teman lain yang akhirnya bercerai, masih harus berjuang agar mantan suami ingat anaknya, atau sekedar ingat untuk menafkahi. Sekarang, mengimani menikah sekali untuk seumur hidup rasanya jadi naif sekali.

Diri kami di SMA dulu pasti tidak menyangka kalau menjadi dewasa berarti level derita juga bertambah. Cinta bukan seperti yang digambarkan dalam lagu Hoobastank yang sering kami request di radio. Kadang ia lebih mirip seperti yang dibilang Slipknot,

And love is just a camouflage for what resembles rage again

Dua orang berada dalam satu ikatan, kadang hanya berupa nama-nama tercatat. Tak ada perasaan cinta, atau apapun yang mau kau taruh di sana. Seringnya hanya hampa. Kosong. Kata kawan baik saya, mau dibawa sampai ke mana gerobak derita ini, biar nanti tuhan yang beri tahu. Lewat doa, lewat mimpi atau lewat bukti-bukti perselingkuhan lagi.

Kawan baik lantas bertanya lagi, apakah masih ada cinta tersisa untuknya di belahan manapun di dunia. Retorikal pun, tapi tetap saja tak bisa saya jawab. Sekadar menyuruhnya sabar juga saya tak mampu. Musti berapa kilogram kesabaran untuk menghadapi ular berbisa. Alih-alih melawan, gigitan bisanya akan masuk ke pembuluh darah, kita pun akan tetap mati perlahan. Maka, membiarkan ia di kandang atau di alam liar saja sekalian. Agar aman, agar fisik tidak mati sia-sia.

Read More