PARANOIA : Serba Nanggung

12 November 2021



 [MENGANDUNG SPOILER]

Saya berkesempatan menonton ‘Paranoia’ pada early screening mereka akhir Oktober lalu.  Selain karena butuh me-time, lokasi pemutaran yang dekat dari rumah, dan tentu saja karena ada Nicholas Saputra--yang menjadi cast di film tersebut, sedang promo bersama produser, Mira Lesmana, sutradara Riri Reza dan Nirina Zubir.


Ibu-ibu angkatan milenial atau yang dua puluh tahun lalu menjadi remaja, besar bersama Rangga dan AADC kayak saya gini, pasti penasaran banget dong liat akting Nicho main di film yang--kalau ­dari trailernya sih, dapat disimpulkan film ‘Paranoia’ ini bergenre thriller ya.

Dengan spirit #KembaliKeBioskop, saya sebenernya terharu waktu Riri Reza, sebagai sutradara memberikan sambutan pembuka sebelum pemutaran film. Pandemi ini beneran mengentak banyak industri tak terkecuali industri film Indonesia. Kalau saya gambarin dengan sotoy ya, finally filmmaker bisa ketemu langsung dengan audiens yang akan melihat karya mereka--setelah satu setengah tahun pandemi, I know it meant a lot for them.

Lalu, bagaimana dengan filmnya sendiri? HAHAAHAHADUUH...

It could have been better, really.

‘Paranoia’ bercerita tentang ibu dan anak perempuannya yang berusaha melarikan diri dari sang suami. Dina diperankan oleh Nirina Zubir, membawa kabur sebuah barang berharga milik Gion (Lukman Sardi), suaminya, yang membuat Gion murka. Ada beberapa adegan flash back yang menggambarkan bagaimana Gion berperangai kasar secara fisik dan mental terhadap Dina. Berlatar situasi pandemi, Dina yang bekerja mengelola vila-vila di Bali milik seorang pengusaha, bersama putri semata wayangnya, Laura (Caitlin North-Lewis) terpaksa pindah dan bersembunyi begitu mengetahui Gion bebas dari penjara. Mereka kemudian bertemu dengan Raka, diperankan oleh Nicholas Saputra, pria misterius yang menempati vila lain tidak jauh dari vila tempat Dina dan Laura bersembunyi.

Saya sangat apresiasi filmmaker mau mengangkat tema kekerasan domestik yang berdampak panjang pada psikis korban. Dina di sini adalah hasil dari relasi pernikahan dengan suami yang abusif. Istri dan ibu dengan jiwa tidak stabil akibat represi dari pasangan tentu berpengaruh pada pengasuhan anak

Pada beberapa dialog dengan Laura, Dina mengalami rasa curiga berlebih, takut dengan orang asing, bahkan di salah satu adegan, Laura pun akhirnya mengkonfrontasi Dina kalau dia sebenernya udah eneg pindah ke banyak kota dengan Ibu yang selalu was-was diikuti orang suruhan Gion. Ya pokoknya parno gitu (yeah, of course! Hence the title)

Namun, entah kenapa buat saya eksekusinya ngga berhasil ya untuk menyampaikan pesan—itu pun kalau ada. Saya ngerti film ini diproduksi di situasi yang jauh dari optimal, tapi ini kan datangnya dari rumah produksi ternama yang film-filmnya banyak jadi favorit saya. Kok gini?

Lack of characters’ depth

Saya sama sekali ngga bisa berempati pada semua karakter utama, bahkan pada Dina. Tapi harus saya akui, Nirina bermain ciamik di sini! You surely could feel her trembles, the fear in her eyes, but that’s it. Pun pada karakter Laura yang harusnya mencerminkan the teen angst karena ibu yang overprotective, ngga bisa didapatkan sama sekali. Selain ngga nyaman dengan aksennya, hampir setengah film kamu akan liat Laura and her bikini body. Too much and unnecessary

Lalu, bagaimana dengan karakter Raka yang diperankan oleh idola wanita tingkat nasional, Nicholas Saputra? Raka yang misterius, saking misteriusnya dia siapa, rasanya kalau ngga ada juga ngga apa-apa lah. *KZL

Sepanjang film sejak kemunculan Raka, kita akan bertanya-tanya tentang dia. Tapi ngga ada petunjuk apa pun dong. Raka, masa kamu kalah sama Blue? Blue aja masih kasih kita clue. 

Asli deh, kita akan tahu Raka adalah mantan arsitek yang anaknya meninggal dalam kecelakaan, trus ya udah. Teka-teki  Raka ini, apa backstory dia, kenapa dia begitu misterius, ini cuma kejawab di adegan udah mau akhir trus gitu doang. Beneran GITU DOANG HAHAHHA. Sampe bingung aku tuh.  Sepanjang film beneran ngga bisa connect dengan karakter Raka ini, walau dulu kukira Nicho adalah jodohku . Padahal ya, background karakter si Raka masih bisa digali lho. Kehilangan anak, trauma, mencoba ‘kabur’ dari kenyataan, mungkin menyalahkan diri sendiri. Tapi di sini kita ngga bisa dapetin itu... Maaf ya, Nicho, you didn’t make it here. Better luck, next time?

Untuk karakter  Gion, masih terlalu dangkal buat saya sih. Ekspresi mikro Lukman Sardi saat menjadi suami abusif cukup apik lho. Kita bisa cukup merasa ‘terancam’ hanya dengan tatapannya. Tapi tetap semua terasa nanggung. Apalagi pas adegan ending, haduh. Alih-alih merasa terharu, penonton satu studio malah ngakak.

 Anyway, this certainly not my movie. Ngga berkesan, ke luar studio, juga udah lupa. Penyelamat film ini buat saya adalah scoring dan musik soundtrack-nya. Scoring-nya cakep dalam membangun nuansa tegang.

Jadi, kalau dari saya cukup 2.5/5 saja. Satu bintang penuh buat Nirina, satu untuk penata musik, setengah untuk dibagi-bagi...

Read More

Sepotong Lainnya

04 August 2021

Slender Woman by Plato Terentev on Pexel


Beberapa waktu lalu, saya berpapasan dengan seorang sahabat lama. Sebut saja dia, SH. SH adalah sahabat masa kecil saya, kami berteman sejak taman kanak-kanak. Kami besar di lingkungan yang sama dan orang tua kami juga berteman cukup baik. Pertemuan kemarin itu terasa sangat canggung, karena kami sudah sangat lama tidak bertukar sapa. SH di masa kini jauh berbeda dibanding SH ketika kami masih main bersama saat SMP (yaaeyalaah...) 

 Sejenak saya mengarungi kembali masa SD dan SMP saat masih berteman dengan SH. Begitu banyak yang saya dapat, tapi banyak juga kehilangan saya. Intan remaja adalah anak yang tidak percaya diri, merasa rendah karena tidak cantik dan lain lain. Sebagian besar karena SH. Saya tahu kurang bijak kalau bilang begini, apalagi ini sudah lama sekali. Sejak kelas 4 SD, SH selalu menanyakan apakah saya mendapat coklat setiap hari Valentine. Saya selalu berbohong kalau saya dapet, padahal ya siapa yang mau ngasih, saya juga ngga doyan. Atau sering bertanya-tanya siapa orang yang saya suka. Apakah ganteng, kaya dan sebagainya. SH selalu punya pacar, sedangkan saya ngga. Saat kami lulus SMP, SH dengan bangga bercerita dia sudah punya sebelas mantan pacar, sementara saya, ngga pernah pacaran. 

SH selalu membuat seakan-akan pacaran itu pencapaian yang wah, buat saya saat itu, ya ngga penting. Sepanjang pertemanan kami dari SD, SH selalu punya pacar. Selalu. SH bahkan bisa bicara tanpa beban kalau dia sudah berkali-kali memberikan oral seks pada pacarny. Sejak SD, SH ngga pernah belajar. Kalau mau ujian, dia selalu mengandalkan saya. Kalau saya masuk kelas pagi, dia kelas siang, dia pasti minta tulisin jawaban ujian. PR sekolah pun dia nyontek sama saya. Dulu saya nurut aja, karena dia teman yang baik. Maksudnya, anak usia segitu, would do anything for friends. We don't do this sorting yet. 

 Ada satu hal lagi, SH selalu mencemooh jerawat saya. Getting acnes on the teen age is a super normal. Saya pun sadar itu, saya juga ngga diam aja. Ibu belikan macam-macam supaya redakan jerawat saya. But, fighting hormonal is like counting sands on the beach alias ya udah lah ya...
 Karena SH yang bodoh dalam pelajaran (err...) dia lulus SMP dengan nilai seadanya. Sementara saya, ya ngga pinter-pinter amat juga biasa aja, lulus cukup untuk masuk SMA favorit. Mungkin itu salah satu hal terbaik dalam hidup. 

Pisah sekolah ini membuat saya dan SH tidak lagi main bersama. Saya pun ngga pernah kontak lagi dengan dia terlebih saat saya melanjutkan kuliah di Bandung. Pertemuan kembali dengan SH kemarin membuka kembali kotak kenangan yang sudah saya kubur dalam-dalam. Menjadi dewasa mengajarkan saya pentingnya memilah teman. Dipilah ya bukan pilih-pilih gitu. Mana pandemi ‘kan, makin susah juga bergaulnya. Dan SH sudah pasti orang yang saya coret dari daftar teman. 

Saya juga ngga yakin dia masih anggap saya teman sih, tapi bagus kalau begitu. Relasi toksik di masa remaja saya dengan dia dulu, kadang menyisakan luka, tapi yah diplester lagi aja, gimana?
Read More

The Sea Lions and The Carousel

29 March 2021

pic by Praphaphan on Pexels.com

 

Aku memeluk erat Rahmat dari belakang tubuhnya. Kuhujani tengkuk yang menggosong terbakar matahari itu dengan kecupan-kecupan. Kuhirup wangi tubuhnya lekat-lekat. Parfum murah tiruan beraroma kayu, bercampur peluh setengah hari dan bau amis ikan-ikan kecil. Aku lega melihat dia bisa  tersenyum tipis. 

Rahmat mengangkat kakinya dari air. Jari jemari yang mengkerut dan keriput itu, aku tahu dia sudah terlalu lama duduk termangu di tepi kolam. Rahmat melenguh, menatap nanar ke arah bangku penonton. Kalau tak ada tragedi itu, mungkin sekarang gelanggang ini sedang riuh sorak sorai tepuk tangan karena trik-trik baru yang dipertunjukkan oleh Surti dan Tedjo.

 Surti yang mendadak mati membuat Rahmat terpukul. Namun dalam hati, aku bahagia bisa jadi tempat sandaran Rahmat yang sedang berduka saat ini. Delapan bulan berpacaran, aku tak pernah rasakan perhatian istimewa darinya. Waktunya terkuras hanya untuk Surti dan Tedjo, primadona di Taman Bermain. Tiap kami berkencan yang dia ceritakan hanyalah soal dua singa laut bodoh itu. Rahmat adalah pawang mereka selama lima tahun. Sementara, aku cuma punya keluh kesah tentang anak-anak berebut antrean masuk, yang jadi pemandangan sehari-hari dari balik loket komidi putar.  Aku malu mengakui ini, tapi aku cemburu pada Surti dan Tedjo. Semua rahasia hidup, bahkan yang gelap sekalipun, Rahmat bagikan pada mereka. Singa laut itu cerdas dan tak ada hewan yang menghakimi, katanya waktu itu.

Baru saja aku mereguk degup karena bibirku dan Rahmat saling bertemu, suara erangan Tedjo menggema di seluruh arena. Rahmat pamit sebentar ke kandang di belakang panggung, barangkali Tedjo bosan, ujarnya. Ah, binatang sialan. Menganggu saja.

Aku berjongkok di tepi kolam pertunjukan, menyibakkan air sambil menunggu Rahmat kembali. Tiba-tiba kurasakan sebuah hantaman di punggung. Sangat keras hingga aku tercebur ke kolam sedalam dua meter itu. Aku panik! Aku tak pandai berenang! Tanganku berusaha menggapai apapun, namun nihil. Dari pandangan redupku, aku lihat sosok hitam legam dan besar, berpijak tegap di pinggir kolam. Sosok itu meraum nyaring ke arahku. Tedjo kah itu?! Astaga, benar Tedjo! Aku ingin berteriak tapi tak mampu. Ah, Tedjo, maafkan aku. Sungguh aku cuma ingin membuat Surti sakit. Tidak lebih. Aku tak mengira kerang busuk itu malah membunuhnya.

Aku mengenali suara Rahmat meneriakkan namaku. Mulanya terdengar lantang, lalu sayup-sayup. Kemudian, suara-suara perlahan menghilang. 
Read More